TEORI DISONANSI KOGNITIF

Disonansi Kognitif adalah perasaan yang tidak seimbang atau merupakan perasaan tidak nyaman yang diakibatkan oleh sikap, pemikiran dan perilaku tidak konsisten dimana memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.

Disonansi adalah sebutan untuk ketidakseimbangan dan konsonansi adalah sebutan untuk keseimbangan.

Browns menyatakan bahwa teori ini memungkinkan dua elemen untuk memiliki tiga hubungan yang berbeda satu sama lain, yaitu :

  • Hubungan konsonan (consonant relationship), ada antara dua elemen ketika dua elemen tersebut ada pada posisi seimbang satu sama lain.
  • Hubungan disonan (disonant relationship) yaitu kedua elemennya tidak seimbang satu sama lainnya.
  • Hubungan tidak relevan (irrelevant relationship) ada ketika elemen-elemen tidak mempunyai hubungan makna satu sama lain.

 

Asumsi Teori Disonansi Kognitif

  1. Manusia memiliki hasrat akan konsistensi pada keyakinan, sikap dan perilakunya. Disini menekankan sifat dasar manusia yang mementingkan stabilitas dan konsistensi.
  2. Disonansi diciptakan oleh inkonsistensi psikologis. Teori ini merujuk pada fakta bahwa kognisi-kognisi harus tidak konsisten secara psikologis. Contoh; seseorang akan merasa tidak konsisten secara psikologis ketika ia tidak melakukan apapun sementara ia sebenarnya ingin membantu.
  3. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur.
  4. Disonansi akan mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk mengurangi disonansi.

 

Konsep dan Proses Disonansi Kognitif

Tingkat Disonansi

Tingkat disonansi merujuk kepada jumlah kuantitatif dari perasaan tidak nyaman yang dirasakan seseorang. Ada tiga faktor dapat mempengaruhi tingkat disonansi (Zimbardo,Ebbesen & Maslach, 1977), yaitu :

  • Tingkat Kepentingan (importance), faktor dalam menentukan tingkat disonansi, merujuk pada berapa signifikan permasalahan.
  • Kedua, Jumlah disonansi dipengaruhi oleh Rasio Disonansi (dissonance ratio) atau jumlah kognisi disonan berbanding dengan jumlah kognisi yang konsonan.
  • Ketiga, Tingkat Disonansi dipengaruhi oleh rasionalitas (rationale) merujuk kepada alasan yang dikemukakan untuk menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul.

Mengatasi Disonansi

  • Mengurangi pentingnya keyakinan disonan kita.
  • Menambah keyakinan yang konsonan, atau
  • Menghapuskan disonansi dengan cara tertentu.

Disonansi Kognitif dan Persepsi

  • Terpaan selektif (Selextive Exposure) atau mencari informasi yang konsisten yang belum ada, membantu mengurangi disonansi.
  • Perhatian Selektif (Selective Attention) metode untuk mengurangi disonansi dengan memberikan perhatian pada informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
  • Interpretasi Selektif (Selective Interpretation), melibatkan interpretasian informasi yang ambigu sehingga menjadi konsisten.
  • Retensi Selektif (Selective Retention) merujuk pada mengingat dan mempelajari informasi yang konsisten dengan kemampuan lebih besar dibandingkan yang kita lakukan terhadap informasi yang tidak konsisten.

Justifikasi Minimal

Merupakan penawaran insentif yang disyaratkan bagi seseorang untuk berubah atau dibutuhkan untuk mendapatkan persetujuan. Banyak penelitian berkonsentrasi pada disonansi kognitif sebagai fenomena pasca pengambilan keputusan. Beberapa studi mempelajari mengenai penyesalan pembelian (a buyer’s remorse) yaitu disonansi yang seringkali terjadi atau dialami seseorang setelah memutuskan suatu pembelian yang besar.

Sedikit contoh dari studinya dimana mereka mencari orang-orang yang sedang menunggu pengiriman mobil yang sudah mereka tandatangani kontrak pembeliannnya. Orang-orang ini akan dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok dihubungi dua kali utnuk meyakinkan membeli, yang satu lagi tidak dihubungi sama sekali. Kira-kira dua kali lebih banyak orang dari kelompok yang tidak dihubungi membatalkan pembelian mobil itu. Temuan ini mendukung teori bahwa disonansi dapt terjadi setelah melakukan pembelian yang besar.Juga informasi untuk memberikan pandangan dapat mengurangi disonansi.

7 thoughts on “TEORI DISONANSI KOGNITIF

  1. mw tanya dunk..

    contoh:
    kt suka bgt sma es campur, suatu hari kita liat tukang es campur lwat, pdahal sedang sakit batuk, ttp aja kita minum es itu.

    (kita tau sesuatu itu tdk baik ttpi masih dilakukan ataw sebaliknya, tau sesuatu itu baik tp enggan melakukannya, apa itu disebut disonansi kognisi jg??)

    • teori ini pertama kali dicetuskan oleh Roger Brown..
      ehhhMM klo soal es campur menurutQ bisa aja sehh disebut sebagai salah satu contoh teori ini..
      mngkin aq bs ngasih sedikit tentang proses disonansi kognisi..

      [sikap,pemikiran,dan perilaku yang tidak konsisten] ——-berakibat pada——-> [mulainya disonansi] ——-berakibat pada——-> [rangsangan yang tidak menyenangkan] ——-dikurangi dengan——-> [perubahan yang menghilangkan inkonsistensi]..

      smoga bermanfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s