Teori Dialektika Relasional (Relational Dialectics Theory)

Teori Dialektika Relasional menyatakan bahwa hidup berhubungan dicirikan oleh ketegangan-ketegangan yang berkelanjutan antara impuls-impuls yang kontradiktif. Walaupun hal ini mungkin terdengar membingungkan, para peneliti yang mendukung posisi dialektis percaya bahwa hal ini dengan akurat menggambarkan bagaimana hidup ini bagi manusia. Dapat dijelaskan visi dari perilaku manusia ini dengan membandingkan dengan dua pendekatan lainnya yang biasa digunakan : pendekatan monologis dan dualistik.

Pendekatan monologis (Monologic Approach) menggambarkan kontradiksi sebagai hubungan hanya/atau (either/or). Sebaliknya, pendekatan dualistik (Dualistic Approach) melihat dua bagian dari sebuah kontradiksi sebagai dua bagian yang terpisah, dan menilai seberapa dekat masing-masing individu ini merasa dibandingkan dengan yang lainnya. Para pemikir yang menggunakan pendekatan dialektik (Dialectic Approach) berpendapat bahwa banyak sudut pandang saling menandingi satu sama lain dalam setiap kontradiksi. Walaupun sebuah kontradiksi melibatkan dua kutub yang berbeda, situasi yang muncul dapat meluas melampaui kedua kutub ini.

Asumsi dalam Teori Dialektika Relasional

1.      Hubungan tidak bersifat linier.

Asumsi yang paling penting dalam teori ini adalah hubungan tidak terdiri dari bagian-bagian yang bersifat linier. Sebaliknya, hubungan terdiri atas fluktuasi yang terjadi antara keinginan-keinginan yang kontradiktif

2.      Hidup berhubungan ditandai dengan adanya perubahan.

Asumsi kedua menyatakan pemikiran akan proses atau perubahan, walaupun tidak sepenuhnya membingkai proses ini sebagai kemajuan yang linier. Proses atau perubahan suatu hubungan merujuk pada pergerakan kuantitatif dan kualitatif sejalan dengan waktu dan kontraksi-kontraksi yang terjadi, di seputar mana suatu hubungan dikelola.

3.      Kontradiksi merupakan fakta fundamental dalam hidup berhubungan.

Asumsi ketiga kontradiksi merupaka fakta fundamental dalam hidup berhubungan, kontradiksi atau ketegangan yang terjadi antara dua hal yang berlawanan tidak pernah hilang dan tidak pernah berhenti menciptakan ketegangan.

4.      Komunikasi sangat penting dalam mengelola dan menegosiasikan kontradiksi-kontradiksi  dalam hubungan.

Asumsi terakhir komunikasi sangat penting dalam mengelola dan menegosiasikan kontradiksi-kontradiksi dalam hubungan, perspektif dialektika relasi, aktor-aktor sosial memberikan kehidupan melalui praktik-praktik komunikasi mereka kepada kontradiksi yang mengelola hubungan mereka. Realita sosial dari kontradiksi diproduksi dan direproduksi oleh tindakan komunikasi para aktor sosial.

Elemen Dialektika : Membangun Ketegangan

Terdapat beberapa elemen yang mendasari perspektif dialektis, yaitu: totalitas, menyatakan bahwa orang-orang di dalam suatu hubungan saling tergantung. Kontradiksi, merujuk pada oposisi/dua elemen yang bertentangan. Pergerakan, merujuk pada sifat berproses dari hubungan dan perubahan yang terjadi pada hubungan itu seiring dengan berjalannya waktu. Praksis, berarti manusia sebagai pembuat keputusan.

Dialektika Relasi Dasar

Terdapat beberapa dialektika yang sering kita temui dalam hidup berhubungan yaitu:

  • Otonomi dan keterikatan, merujuk pada sebuah ketegangan hubungan yang penting yang menunjukkan keinginan-keinginan kita yang saling berkonflik untuk menjadi dekat maupun menjadi jauh.
  • Keterbukaan dan perlindungan, berfokus yang pertama pada kebutuhan-kebutuhan kita untuk terbuka dan menjadi rentan, membuka semua informasi personal pada pasangan dan yang kedua untuk bertindak strategis dan melindungi diri sendiri dalam komunikasi kita.
  • Hal yang baru dan hal yang dapat diprediksi, merujuk pada sebuah ketegangan hubungan yang penting yang menunjukkan keinginan-keinginan kita yang saling berkonflik untuk memiliki stabilitas dan perubahan.
  • Penjelasan diatas merupakan dialektika interaksi karena mereka berada di dalam hubungan itu sendiri, mereka merupakan bagian dari interaksi pasangan-pasangan satu sama lain. selain dialektika interaksi terdapat juga dialektika kontekstual yang berarti bahwa dialektika ini muncul dari tempat hubungan tersebut di dalam suatu budaya. Di dalam dialektika kontekstual terdapat pula dialektika publik dan privat yaitu dialektika kontekstual yang muncul dari hubungan privat dan kehidupan publik. Dialektika publik dan privat berinteraksi dengan dialektika antara yang nyata dan yang ideal yaitu dialektika kontekstual yang muncul dari perbedaan antara hubungan yang di anggap ideal dengan hubungan yang dijalani.

Respons terhadap Dialektika

Baxter mengidentifikasikan empat strategi spesifik terhadap dialektika yaitu:

  1. Pergantian Bersiklus, yaitu respons untuk menghadapi ketegangan dialektis; merujuk pada perubahan sejalan dengan waktu.
  2. Segmentasi, yaitu respons untuk menghadapi ketegangan dialektis; merujuk pada perubahan akibat konteks
  3. Seleksi, yaitu respons yang merujuk pada pemberian prioritas pada oposisi-oposisi yang ada.
  4. Integrasi, yaitu respons yang merujuk pada membuat sintesis oposisi. Integrasi dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu: menetralisasi, yang membutuhkan adanya kompromi antara dua kutub. Orang memilih strategi ini mencoba untuk menemukan medium yang membuat mereka bahagia diantara dua hal yang berlawanan. Membingkai ulang, merujuk pada mentrasformasi  dialektika yang ada dengan cara tertentu sehingga dialektika itu seperti tidak memiliki oposisi. Mendiskualifikasi, yaitu menetralkan dialektika dengan memberikan pengecualian pada beberapa isu dari pola umum.

5 thoughts on “Teori Dialektika Relasional (Relational Dialectics Theory)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s